Written by Nasikin Sani
TERBITAN JURNAL Category: VOL. 10 Nomor 1, JUNI 2010
Published on 29 February 2012 Hits: 2182
Print

Ibayasid

(Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Samarinda)

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak

Dalam rangka mempercepat proses pembangunan di Kalimantan Timur, perhatian pemerintah terhadap infrastruktur sangat tinggi, salah satunya adalah infrastruktur jalan. Hal ini dapat dilihat pada tiga program pokok pembangunan pemerintah provinsi Kalimanatan Timur, yaitu peningkatan sumber daya manusia, infrastruktur dan pertanian dalam arti luas. Salah satu langkah yang harus diperhatikan dalam perencanaan perkerasan jalan adalah pemilihan bahan yang sesuai dengan kriteria : bahan mudah didapat, dana yang tersedia cukup, ketersediaan peralatan dan SDM yang ada, serta sesuai dengan fungsi jalannya sendiri. Selama ini penggunaan bahan hanya berdasarkan kebiasaan saja, misalnya untuk Lapisan Pondasi Atas (LPA) selalu digunakan Agregat A, untuk Lapisan Pondasi Bawah (LPB) selalu menggunakan agregat B. Sebenarnya untuk bahan ini bisa disesuaikan dengan bahan yang ada di lokasi, misalnya LPB   dengan menggunakan Sirtu. Penelitian ini akan mencoba menghitung ketebalan masing-masing lapisan perkerasan dengan  menggunakan  Metode Binamarga, untuk mengetahui berapa perbedaan ketebalan  antar LPB menggunakan agregat B dengan LPB menggunakan Sirtu. Selain itu juga akan dihitung berapa perbedaan biayanya. Setelah dilakukan perhitungan tebal perkerasan lentur dengan menggunakan metode Analisa Komponen Binamarga perkerasan  alternatif I ketemu ketebalan lapisan permukaan Laston 7,5 cm, pondasi atas Agregat A   20 cm dan pondasi bawah agregat B 21 cm. Untuk  altenatif II dengan mengganti Agregat B dengan Sirtu yang mempunyai CBR 50%  didapatkan tebal lapisan Sirtu 23 cm. Dari perhitungan terlihat bahwa ketebalan lapisan pondasi bawah dengan bahan Agregat B dan Sirtu perbedaaannya tidak terlalau jauh. Dan setelah dihitung anggaran biayanya, alternatif I diperlukan biaya sebesar Rp 16.171.767.000,-  dan alternatif  II diperlukan biaya Rp 15.308.953.000,-  dari sini dapat diartikan bahwa dengan menggunakan Sirtu sebagai lapisan pondasi bawah, bisa menghemat biaya  sebesar  Rp  862.814.000,-  atau  5,33  %.  Hal  ini akan  lebih  menguntungkan  apabila dilaksanakan pada daerah-daerah yang disekitarnya mempunyai lokasi penambangan Sirtu.

Kata Kunci : Perkerasan Lentur, Agregat B, Sirtu

PENDAHULUAN

Jalan sebagai salah satu prasarana transportasi

m erupak an  unsur  yang  sangat  penting  dalam pengembangan  kehidupan  masyarakat, serta dan

wilayah  negara.  Selain itu jalan sebagai prasarana

transportasi mempunyai peran penting dalam bidang ekonomi,  sosial budaya,  lingkungan  hidup,  politik,

pertahanan dan keamanan, seta untuk peningkatan

k e s e j a h t e r a a n   m a s ya r a k a t .   D a la m   r a n g k a mempercepat proses pembangunan di Kalimantan

Timur, perhatian pemerintah terhadap infrastruktur

sangat tinggi, salah satunya adalah infrastruktur jalan.

 

Karena hal ini akan menjadi penunjang dalam menggerakkan   roda  perekonomian  daerah  serta mengembangkan potensi daerah setempat. Hal ini dapat dilihat pada tiga program pokok pembangunan pem erintah  provinsi  Kalim anatan  Tim ur,  yaitu peningkatan sumber daya manusia, infrastruktur dan pertanian dalam arti luas.

Pem bangunan  jalan  di  Kabupaten  Kutai Ke r t a n e g a r a  s e m a k in  p e s a t  s e ir in g  d e n g a n berkembangnya  perekonomian  dan  taraf  hidup masyarakat di daerah tersebut.

 

 

MEDIA PERSPEKTIFl  VOL. 10 Nomor 1, JUNI   2010 : 1 - 59 RISET & TEKNOLOGI / 35

 

 

Dengan pesatnya pembangunan jalan tersebut,

m a s i h   s e r i n g   p u l a   d it e m u i   p e r m a s a l a h a n permasalahan di lapangan, salah satunya adalah tidak

tercapainya  kwalitas  pekerjaan  sesuai  dengan

spesifikasi yang ada, untuk itu maka perencanaan dan pelaksanaan juga diharapkan lebih baik dan teliti,

sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang ada.

Salah satu langkah yang harus diperhatikan dalam  perencanaan    adalah  pem ilihan  bahan

perkerasan sesuai dengan kriteria : bahan mudah

didapat,  dana  yang  tersedia  cukup,  ketersediaan peralatan dan SDM yang ada, serta sesuai dengan

fungsi jalannya sendiri.

Se la m a   in i   p e n g g u n a a n   b a h a n   h a n ya berdasarkan kebiasaan saja, misalnya untuk Lapisan

Pondasi Atas  (LPA)   selalu  digunakan Agregat A,

untuk Lapisan Pondasi Bawah selalu menggunakan ag re gat  B.  Sebe na rnya  unt uk  ba han  ini  bisa

disesuaikan  dengan  bahan  yang  ada  di  lokasi,

misalnya LPB dengan menggunakan Sirtu. Penelitian ini  akan  mencoba  menghitung  ketebalan  masing-

masing lapisan  perkerasan dengan  menggunakan

Metode  Binam arga,  untuk  m engetahui  berapa perbedaan  ketebalan antar  LPB  menggunakan

agregat B dengan LPB menggunakan Sirtu. Selain

itu juga akan dihitung berapa perbedaan biayanya.

T uj ua n  da ri  p en elit ian  ini  a da la h  un tu k menghitung berapa rupiah perbedaan antara biaya

yang diperlukan untuk mengerjakan perkerasan lentur jalan  dengan  menggunakan  Lapisan  Permukaan

Laston, LPA agregat A dan LPB Agregat B dengan

jalan yang menggunakan LPB Sirtu.

Dalam  penelitian ini masalah-masalah  yang menjadi konsentrasi adalah sebagai berikut :

1.  Perhitungan tebal perkerasan lentur jalan dengan

LPB Agregat B dan LPB Sirtu, sedangkan  bahan lapisan permukaan tetap sama Laston, dan LPA

Agregat A.

2.  Metode  yang  digunakan  m enghitung  adalah

Metode Analisa Komponen Binamarga.

3. Lokasi yang digunakan sebagai dasar perhitungan adalah Ruas jalan L1-L2 dari STA 0 + 050 – STA 7

+ 200 Kabupaten Kutai Kertanegara.

Hasil  dari  penelitian  ini  diharapkan  dapat memberi  masukan  kepada  Konsultan  Perencana

sebagai alternatif bahan perkerasan lentur terutama

pada  lokasi  pekerjaan  yang  disekitarnya  banyak terdapat Sirtu, sehingga  dapat digunakan sebagai

pengganti agregat  B untuk  pada  Lapisan Pondasi

Bawah.

 

 

Pengertian Perkerasan Lentur

Konstruksi  perkerasan  lentur  terdiri  dari lapisan-lapisan yang  dihampar diatas  tanah dasar

yang  telah  dipadatkan.  Lapisan-lapisan  tersebut berfungsi  untuk  menerima  beban  lalu-lintas  dan

menyebarkannya ke lapisan di bawahnya.

Pada Gambar berikut,  terlihat bahwa beban

lalu-lintas diterima oleh permukaan perkerasan melalui bidang kontak roda yang berupa beban terbagi rata

Po. Beban tersebut kemudian disebarkan ke tanah

dasar menjadi  P1  yang lebih kecil dari pada daya dukung  tanah.  Jadi  pada  prinsipnya  perkerasan

berfungsi untuk memperkecil tegangan yang terjadi

dengan cara memperbesar luasan bidang kontak. Sesuai dengan persamaan  sebagai berikut :

 

σ = P / A

 

dimana :  σ  = Tegangan yang terjadi

P  = Beban roda kendaraan

A  =  Luas bidang kontak

 

Jadi semakin besar A maka tegangan yang terjadi akan semakin kecil, sehingga mampu diterima oleh tanah dasar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Penyebaran   Beban  Roda Melalui

Lapisan Perkerasan  Jalan

 

Kontruksi perkerasan lentur terdiri dari :

Lapisan Permukaan ( Surface Course)

Bagian dari lapisan perkerasan yang terletak

p a ling  a t a s  dis e b u t  la p is a n  pe r m u k a a n,  d a n

mempunyai fungsi sebagai berikut :

a.  menahan beban roda, harus mempunyai stabilitas yang tinggi untuk menahan  roda selama masa

pelayanan.

b.  sebagai laipsan kedap air, sehinggga air hujan tidak  meresap  kebawah  dan  merusak  lapisan

tersebut.

c.  lapisan  aus  (wearing  course),lapisan  yang langsung mengalami gesekan roda kendaraan

d.  lapisan yang menerima dan menyebarkan beban roda kendaraan, sehingga dapat dipikul oleh

lapisan yang mempunyai daya dukung lebih jelek.

Guna dapat memenuhi fungsi seperti tersebut diatas,  maka  lapisan  permukaan  pada  umumnya

terbuat dari agregat dengan perekat aspal sehingga

menghasilkan  lapisan  yang  tahan  aus,  kedap  air

 

 

RISET  &  TEKNOLOGI  /36 MEDIA  PERSPEKTIFl  VOL. 10 Nomor 1, JUNI  2010 : 1 - 59

 

 

dengan stabilitas yang tinggi serta daya tahan yang

lama.

 

Lapisan Pondasi Atas ( Base Course )

Bagian dari lapisan perkerasan yang terletak diantara lapisan permukaan dengan lapisan pondasi

bawah.  Lapisan  pondasi  atas  mempunyai  fungsi

sebagai berikut :

1.  bagian dari perkerasan yang menahan beban roda dan  menyebarkan  ke  lapisan  perkerasan  di

bawahnya.

2.  lapisan peresap untuk lapisan  pondasi bawah.

3.  sebagai bantalan dari lapisan permukaan.

Untuk  pondasi  atas  tanpa  bahan  pengikat umumnya menggunakan material dengan CBR > 50

% dan Indeks plastisitas < 4 %.

 

Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)

Bagian dari lapisan perkerasan yang terletak

diantara lapisan permukaan dengan lapisan pondasi bawah.  Lapisan  pondasi  atas  mempunyai  fungsi

sebagai berikut :

1.  Ba g i a n   d a r i  k o n s t r u k s i   p e r k e r a s a n   ya n g menyebarkan  beban  roda  kendaraan  ke  tanah

dasar. Bahan dari lapisan ini harus cukup kuat,

mempunyai CBR > 20 % dan Indeks Plastisitas

<  10 %.

2. Effisiensi penggunaan material, material pondasi

bawah  relative  m urah  dibandingkan  lapisan diatasnya.

3. Sebagai lapisan peresap agar air tanah tidak naik

ke pondasi atas.

4.  Sebagai lapisan  pertama  untuk  mempermudah pelaksanaan lapisan diatasnya.

5. Sebagai filter agar partikel-partikel halus dari tanah dasar tidak naik ke lapisan pondasi atas.

 

Tanah Dasar (Subgrade)

Lapisan Tanah  Dasar  adalah  lapisan  tanah setebal  50  –  100  cm  dim ana  di  atasnya  akan

dihampar lapisan pondasi bawah. Lapisan tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan apabila tanah

dasarnya baik, tanah yang didatangkan dari tempat

lain  dan  dipadatkan  atau  tanah  yang  distabilisasi dengan semen atau bahan lain. Dilihat dari permukaan

tanah asli, tanah dasar dapat dibedakan menjadi :

- Tanah asli

- Tanah galian

- Tanah timbunan.

 

Penentuan Nilai CBR (California Bearing Ratio)

Salah satu faktor yang menentukan tebalnya

perkerasan jalan adalah kulitas tanah dasarnya, dan kualitas tanah dasar suatu perkerasan jalan ditentukan

dengan nilai CBR. CBR adalah perbandingan antara beban

yang diperlukan untuk penetrasi contoh tanah sebesar

0.1"/0.2" dengan beban yang ditahan bahan standard pada penetrasi 0.1"/0.2" . CBR dinyatakan dalam persen.

Jadi nilai CBR adalah nilai yang menyatakan kualitas

tanah atau batu dibandingkan dengan batu pecah standar yang mempunyai nilai CBR 100%.

Ada beberapa cara dan alat yang digunakan

untuk  m enentukan  besarnya  nilai  CBR    untuk pekerjaan jalan alat yang sering digunakan adalah

DCP (Dynamic Cone Penetrometer). Alat DCP mulai

digunakan  di  Indonesia  sejak  tahun  1985/1986. Pengujian  dengan  alat  ini  akan  m enghasilkan

kekuatan tanah sampai kedalaman  ± 90 cm.

 

 

 

METODOLOGI PENELITIAN

 

Data  Perencanaan  Perkerasan  Lentur  (Metode

Binamarga) :

 

Jumlah Lajur dan Koefisien Distribusi

Lajur rencana ditentukan dari salah satu lajur dari suatu  ruas  jalan  yang  menampung  lalu-lintas

terbesar. Apabila jalan tidak mempunyai tanda batas lajur maka jumah lajur dapat ditentukan berdasarkan

lebar perkerasan,

Koefiseien Distribusi  kendaraan  (C),  adalah angka  yang  menunjukkan  tingkat   penyebaran

kendaraan  pada  waktu  melewati  lajur  rencana,

s e m a k in  l e b a r  j a la n  s e m a k i n  k e c i l,  k a r e n a kemungkinan kendaraan melewati lajur yang sama

semakin  kecil.  Besarnya koefisien  distribusi untuk

kendaraan  ringan  (berat  total  <  5  ton)  maupun kendaraan  berat  (berat  total  e”  5  ton)  ditentukan

menurut tabel.

 

Angka Ekivalen (E) Beban sumbu Kendaraan.

Angka  Ekivalen  dari  suatu  beban  sum bu

k e n d a r a a n  a d a la h  a n g k a  ya n g  m e n ya t a k a n perbandingan  tingkat  kerusakan  yang  ditimbulkan

oleh suatu lintasan beban sumbu tunggal kendaraan

terhadap tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh satu lintasan beban standard sumbu tunggal seberat 8.16

ton  (18.000  lb).  Angka  Ekivalen  masing-masing

golongan beban sumbu (setiap kendaraan) ditentukan menurut rumus di bawah ini :

Angka Ekivalen Sumbu tunggal  =

[ Beban satu sumbu tunggal dalam Kg  ] 4

8160

 

Angka Ekivalen Sumbu Ganda  =

[ Beban satu sumbu ganda dalam Kg  ] 4

8160

 

Lalu Lintas Harian Rata-Rata dan Lintas Ekivalen

1). Lalu-lintas Harian Rata-rata (LHR) adalah jumlah rata-rata lalu-lintas kendaraan bermotor roda 4 atau

lebih  yang  dicatat  selama  24  jam  untuk  kedua

jurusan. LHR setiap jenis kendaraan ditentukan pada awal umur rencana, yang dihitung untuk dua

 

 

MEDIA PERSPEKTIFl  VOL. 10 Nomor 1, JUNI   2010 : 1 - 59 RISET & TEKNOLOGI / 37

 

 

arah pada jalan tanpa median dan masing-masing

arah untuk jalan dengan median.

2). Lintas Ekivalen Permulaan (LEP), dihitung dengan rumus sebagai berikut :

n

LEP  = Σ  LHRj  X  Cj  X  Ej j=1

 

3). Lintas Ekivalen Akhir (LEA), dihitung dengan rumus sebagai berikut :

n

LEA  =  Σ  LHRj ( 1 + i ) UR  X Cj X Ej j=1

j =  jenis kendaraan

i =  pertumbuhan lalulintas

UR   =  Umur Rencana

 

4). Lintas Ekivalen Tengah (LET), dihitung dengan rumus sebagai berikut :

LET  =  ( LEP + LEA ) / 2

 

5)   Lintas Ekivalen Rencana (LER), dihitung dengan rumus sebagai berikut :

LER = LET X FP

FP =  Faktor Penyesuaian, ditentukan  dengan persamaan sebagai berikut :

FP =  UR / 10

 

Daya Dukung Tanah (DDT)

Tanah Dasar adalah permukaan tanah asli atau permukaan  galian  atau  permukaan  urugan  yang

dipadatkan yang merupakan dasar untuk meletakkan

bagian-bagian perkerasan lainnya. Daya Dukung Tanah ditentukan berdasarkan nilai CBR tanah dasar. Setelah

diketahui CBR yang mewakili dalam  satu segmen

(CBR segmen), maka ditentukan nilai Daya Dukung

Tanah dengan menggunakan grafik.

 

Faktor Regional (FR)

Faktor Regional adalah factor sesuai dengan kondisi setempat, menyangkut keadaan lapangan dan

ik li m ,   ya n g   d a p a t   m e m p e n g a r u h i   k e a d a a n

p em b eb a na n ,  d aya  d uk u ng  ta n ah  da s ar  da n perkerasan.  Faktor  Regional  dipengaruhi  oleh  :

kelandaian jalan, persen kendaraan berat dan curah hujan yang terjadi pada lokasi pembangunan jalan.

 

Indeks Permukaan (IP)

Indeks Permukaan adalah suatu angka yang dipergunakan untuk menyatakan kerataan/kehalusan

serta kekokohan permukaan jalan yang berhubungan dengan tingkat pelayanan jalan bagi lalu-lintas yang

menggunakannya.  Indeks  Permukaan Awal  Umur

Rencana  (IPo)   tergantung  pada  jenis  lapisan permukaan yang digunakan. Indeks Permukaan Akhir

U m u r R e n c a n a ( I Pt ) m e n e n t u k a n p e r lu

mempertimbangkan klasifikasi jalan dan Lalu-lintas ekivalen rencananya..

Besarnya  nilai  Indeks  Permukaan  beserta  artinya

dapat dijelaskan sebagai berikut :

IPt =   1.0 adalah menyatakan permukaan jalan dalam

k e a d a a n  r u s a k  b e r a t  s e h in g g a  s a n g a t

mengganggu lalu-lintas.

IPt =   1.5  adalah  tingkat  pelayanan  jalan  yang terendah  yang  masid  mungkin  (jalan  tidak

terputus)

IPt =   2.0 adalah tingkat pelayanan rendah bagi jalan yang masih mantap.

IPt =   2.5  adalah  menunjukkan  permukaan  jalan masih cukup stabil dan baik.

D a la m  m en e n t u k a n  I nd e k s  Pe r m u k a a n

padaawal umur rencana (IPo) perlu diperhatikan jenis lapisan permukaan jalan, keretaan/kehalusan serta

kekokohan pada awal umur rencana.

 

Koefisien Kekuatan Relatif (a)

Koefisien Kekuatan relative (a) masing-masing

bahan dan kegunaan sebagai lapis permukaan, lapis pondasi atas atau lapis pondasi bawah, ditentukan

secara  korelasi  sesuai  nilai Marshall  Test  (  untuk

bahan dengan aspal), kuat tekan (untuk bahan yang distabilkan  dengan  semen  atau  kapur),  atau  CBR

(untuk bahan pondasi)

 

Langkah-langkah perencanaan tebal lapis perkerasan dengan metode Analisa Komponen - Binamarga.

1.  Tentuk an  nilai  daya  duk ung  tanah  dengan menggunakan pengujian CBR.

2.  Dengan  memperhatikan  nilai  CBR  dari  hasil

pengujian di lapangan sepanjang jalan rencana, tentukan nilai CBR segmen.

3.  Tentukan Nilai Daya Dukung Tanah dari nilai CBR

segmen.

4.  Tentukan  Umur  rencana  dari  jalan  yang  akan direncanakan. Pada umumnya umur rencana jalan

di Indonesia diambil 5 tahun, 10 tahun atau 20

tahun.

5.  Tentukan besarnya pertumbuhan lalu-lintas

selama masa pelaksanaan  dan selama umur rencana.

6.  Tentukan Faktor Regiona (FR)

Faktor Regional ditentukan berdasar kan :

-  kelandaian jalan  maksimum

-  curah hujan rata dalam satu tahun, dan

-  Persen kendaraan berat (>5ton)

7.  Tentukan Lintas Ekivalen Rencana (LER)

8.  Te n t u k a n   I n d e k s   Pe r m u k a a n   Awa l   ( I Po )

berdasarkan jenis perkerasan yang digunakan dan hasil Roughness test nya.

0

9.  Te n t u k a n   I n d e k s   Pe r m u k a a n   a k h ir   ( I P  )

berdasarkan Lintas Ekivalen Rencana (LER) dan

Klasifikasi jalan menurut fungsinya.

10.Tentukan Indeks Tebal Perkerasan (ITP) dengan

menggunakan nomogram.  ITP  dapat diperoleh dari  nomogram  dengan  menggunakan  Daya

dukung Tanah (DDT), Lintas Ekivalen Rencana

(LER), serta Faktor Regional (FR).

 

 

RISET  &  TEKNOLOGI  /38 MEDIA  PERSPEKTIFl  VOL. 10 Nomor 1, JUNI  2010 : 1 - 59

 

 

11. Tentukan Jenis bahan Perkerasan

Ba h a n Pe r k e r a s a n d it e n t u k a n d e n g a n mempertimbangkan : :

-  Material yang ada/mudah didapat di sekitar lokasi

jalan

-  Dana awal  yang tersedia

-  Tenaga Kerja dan peralatan yang tersedia

-  Fungsi  jalan.

12.Tentukan Koefisien Kekuatan Relatif (a) sesuai dengan bahan yang digunakan.

13.Dengan menggunakan persamaan :

Untuk roda kembang (track)  = 0,5

Untuk roda ban = 0,4

f.   Blade digerakkan dengan system hidrolis

 

Estimasi Biaya

1. Volume/ kubikasi pekerjaan perkerasan

Menghitung jumlah banyaknya volume pekerjaan

dalam  satu  satuan.  Masing-  masing  volume tersebut mempunyai pengertian sebagai berikut:

a. Biaya  um um  dihitung  berdasarkan  harga

lapangan dengan Lump Sump;

 

1

D

1

ITP   =  a

 

dimana :

 

2

2

+  a  D

 

3

3

+  a   D

b. Agregat A dan B serta Sirtu dihitung berdasarkan volume dengan satuan meter kubik (m3)

c. Prime  coat  (lapis  pengikat),  tack  coat  (lapis

a

1

adalah koefisien kekuatan relatif untuk lapisan permukaan

2

a  adalah koefisien kekuatan relatif untuk lapisan

perekat)  dihitung  berdasarkan  luas  dengan

satuan meter persegi (m²).

d. Laston dihitung berdasarkan volume dengan

pondasi atas

3

a  adalah koefisien kekuatan relatif untuk lapisan pondasi bawah

D

1

adalah tebal lapisan permukaan

2

D  adalah tebal lapisan pondasi atas

3

D  adalah tebal lapisan pondasi bawah

Perkiraan  besarnya  ketebalan  masing-masing jenis  lapis  perkerasan  ini  tergantung  dari  nilai

minimum yang telah ditentukan oleh Binamarga.

14.Kontrol  apakah  tebal  dari masing-masing  jenis lapisan telah memenuhi ITP yang bersangkutan.

 

Perkiraan Perhitungan Produksi Alat

Rumus umum produksi alat :

Q  =  q  x  60  x  E Ws

Dimana :

Q =  produksi alat dalam satuan jam  (m³/jam)

q =  kapasitas alat per siklus (m³/siklus) Ws =  waktu siklus (menit)

E =  effisiensi total

Maka  dapat  kita  lihat  bahwa  produksi alat  sangat tergantung pada :

(1)   Jenis alat/kapasitas alat dimana kapasitas alat ditentukan dari jenis dan tipe alat.

(2)   Waktu siklus : daya alat, kecepatan alat, kondisi

lapangan dalam hal transaksi.

(3)   Effisiensi : kondisi alat, material yang diangkut, kondisi lapangan dalam hal cuaca, kondisi tata-

laksana dan sebagainya.

Kondisi kerja tersebut, biasanya adalah sebagai berikut :

a.  Effisiensi waktu 100 % (60 menit/jam)

b.  Waktu tetap untuk pemindahan daya (pindah persneling) = 0,05 menit.

c.  Berat jenis (density) tanah : Untuk tanah lepas  = 1370 kg/m³

Untuk tanah asli = 1790 kg/m³

d.  Prosentase kembang 30 % atau factor beban =

0,769

e.  Koeffisien traksi :

dengan satuan meter kubik (m3)

2. Harga Satuan Pekerjaan

Jumlah harga dan upah tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis dikalikan dengan volume pada

masing- masing pekerjaan.

3. Rencana Anggaran Biaya

Rencana  anggaran biaya  dihitung  berdasarkan besarnya  volum e/kuantitas  masing-  m asing

p ek e rj a an  d ik a lik an  de n ga n  h a r ga  sa t ua n pekerjaan. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya

dikelompokkan sesuai item pekerjaan misalnya

pekerjaanpersiapan, pekerjaan tanah dsb. Selanjutnya  dari  Rencana Anggaran  Biaya

dibuat rekapitulasi biaya, ini merupakan hasil akhir

dari perhitungan estimasi biaya.

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perhitungan CBR Segmen

Untuk merencanakan tebal perkerasan lentur, data  hasil  pengujian  CBR  di lapangan  dilapangan harus dijadikan dulu CBR segmen. Perhitungan CBR segmen  dapat  dilakukan  dengan  dua  cara,  yaitu secara Analitis dan secara grafis.

 

Perhitungan CBR segmen dengan cara Analitis:

 

No STA CBR %

1 0 + 050 6,40

2 1 + 150 10,00

3 2 + 280 13,50

4 3 + 125 7,70

5 3 + 340 9,00

6 3 + 500 9,10

7 4 + 250 11,00

8 5 + 200 15,80

9 5 + 950 13,20

10 6 + 650 11,50

11 6 + 800 14,50

12 7 + 200 12,00

 

Tabel 1. Data CBR hasil pengujian adalah sebagai berikut:

 

 

MEDIA PERSPEKTIFl  VOL. 10 Nomor 1, JUNI   2010 : 1 -   59 RISET & TEKNOLOGI / 39

 

 

CBR

=CBR

–(CBR

–CBR

)/R

Menghitung LEA

segmen

 

CBR rata-rata :

rata-rata

maks

min

Mobil Penumpang

= 321.01 x 1 x 0.0004 =  0.128

(6,4+10+13,5+7,7+9+9,1+11+15,8+13,2

+11,5+14,5+12) : 12 =  11,14 % CBR maks = 15,8 %

CBR min = 6,4 %

Karena jumlah titik pengujian >10, maka R =3,18

CBR segmen = 11,14-(15,8-6,4)/3,18 = 8,18 %

 

Perhitungan Tebal Perkerasan

Data lalu-lintas Tahun 2007

Mobil Penumpang =   60   kendaraan

Pick up 2 ton =  150  kendaraan

Truk 2 As 13 ton =  100  kendar aan

Truk 3 as 20 to =  10 kendaraan

Umur Rencana  = 10 tahun

Perkembangan lalu lintas (i)  = 15  % / tahun

 

LHR  awal umur rencana  (Tahun 2009)

Mobil Penumpang

= 60 ( 1 + 0.15 ) 2 =  79.35 kend/hari

Pick up 2 ton

= 150  ( 1 + 0.15 ) 2 =  198.375 kend/hari

Truk 2 As 13 ton

= 100  ( 1 + 0.15 ) 2 =  132.25   kend/hari

Truk 3 as 20 ton

= 10 ( 1 + 0.15 ) 2 =  13.225   kend/hari

 

LHR akhir umur rencana  (Tahun ke-10)

Mobil Penumpang

= 79.35 (  1 + 0.15 )10      =  321.01   kend/hari

Pick up 2 ton

= 198.375 ( 1 + 0.15) 10 =  802.53   kend/hari

Truk 2 As 13 ton

= 132.25  ( 1 + 0.15 ) 10 =  535.02   kend/hari

Truk 3 as 20 ton

= 13.225   ( 1 + 0.15 ) 10      =  53.5 kend/hari

 

Menghitung angka Ekivalen (E)

Mobil Pnumpang =  0.0002 + 0.0002 = 0,0004

Pickup 2 t (1+1)   =  0.0002 + 0.0002 = 0,0004

0.0002 + 0.0002 =  0.0004

Truk 2 as 13 ton (5+8) = 0.1410 + 0.9238

=  1.0648

Truk 3 as 13 ton (6+7.7) = 0.2923 + 0.7452

=  1.0375

 

Menghitung LEP

Mobil Penumpang

= 79.35 x 1 x 0.0004  =  0.031

Pick up 2 ton

= 198.375 x 1 x 0.0004  =  0.079

Truk 2 As 13 ton

= 132.25   x 1 x 1.0648  =  140.819

Pick up 2 ton

= 802.53 x 1 x 0.0004   =   0.321

Truk 2 As 13 ton

= 535.02 x 1 x 1.0648   =  569.689

Truk 3 as 20 ton

= 53.50 x 1 x 1.0375   =   55.506

LEA =  625.644

 

Menghitung LET :

LET = ½ (LEP + LEA)

= ½ (154.649 + 625.644) = 390

 

Menghitung LER

LER = LET x Umur Rencana / 10

= 390 x (10/10)  =   390

 

Mencari Daya Dukung Tanah (DDT)

Dari Grafik Korelasi CBR dengan DDT untuk CBR =

8,186 % didapat nilai  DDT = 5,6

 

Menentukan Faktor Regional (FR) Faktor Regional (FR) didapat : Kelandaian maksimum < 6 %

% kendaraan berat

= “kendaraan berat e” 5 ton   x 100 %

“kendaraan keseluruhan

=   100 + 10      x 100 % = 34,37 %

60+150+100+10

Curah hujan  < 900 mm/thn

Maka didapat nilai FR = 1,5

 

Menentukan IPo dan IPt

Dengan LER = 390

Klasifikasi jalan = Kolektor

Maka  IPt =  2.0

Bahan lapisan permukaanan Laston,maka didapat IPo

= 4

 

Menentukan ITP

Dengan data LER = 390

DDT = 5,6

Faktor Regional = 1,5

Dengan menggunakan Nomogram, maka didapat ITP

=8.5

 

Menetapkan tebal perkerasan dengan LPB Agregat

B (Alternatif 1)

2

3

Koefisien kekuatan relative:

Lapisan Permukaan = Laston; a1 = 0.4; d1 = 7,5 cm

Lapisan Pondasi Atas =  Agregat klas A; a2 = 0.14

d2 = 20 cm

1

2

3

1

Lapisan Pondas Bawah = Agregat B  a3 = 0.13 d3=?

Truk 3 as 20 ton

ITP = a D

+ a D

+ a D

= 13.225   x 1 x 1.0375  =  13.720

LEP = 154.649

8.5 = (0.40 x 7,5) + (0.14 x 20) + (0.13 x  d3)

d3 = 20,77 cm ~ 21 cm

 

 

RISET  &  TEKNOLOGI  /40 MEDIA  PERSPEKTIFl  VOL. 10 Nomor 1, JUNI  2010 : 1 - 59

 

 

Menetapkan  tebal  perkerasan  dengan  LPB  Sirtu

(Alternatif 2)

 

Koefisien kekuatan relative:

Lapisan Permukaan = Laston; a1 = 0.40; d1 = 7,5 cm

Lapisan Pondasi Atas =  Agregat  A   a2 = 0.14

d2 = 20 cm

 

Lapisan Pondas Bawah =  Sirtu  a3 = 0.12 d3 = ?

Perhitungan Volume

Volume dihitung berdasarkan lebar jalan = 4,00 meter dan panjang jalan = 7.200   meter, serta tebal dari

masing-masing lapisan. Dan setelah di hitung semua

didapatkan volume seperti berikut :

Lapisan Permukaan (Laston) - tebal 7,5 cm

= 7200 X 4.00 X   = 28.800 m2

Lapisan Pondasi atas (Agregat A)

= 7200 X 4.00 X 0,20  = 5.760 m3

1

2

3

1

2

3

ITP = a D

+ a D

+ a D

Lapisan Pondasi bawah (Agregat B)

8.5 = (0.40 x 7,5) + (0.14 x 20) + (0.12 x  d3)

 

Alternatif 1 Alternatif 2

Permukaan

Permukaan Laston 7,5 cm Laston 7,5 cm

Lap.Pondasi

Atas Agregat A  20 cm Agregat A 20

cm

Lap.Pondasi

Bawah Agregat  B  21 cm Sirtu 23 cm

 

d3 = 22,60 cm ~ 23 cm

= 7200X 4.00 X 0,21  = 6.048 m3

Lapisan Pondasi bawah (Sirtu)

= 7200X 4.00 X 0,23  = 6.624 m3

Lapisan Perekat = 7200 X 4.00  = 28.800 m2

 

Analisa Alat dan Harga Satuan Pekerjaan Perhitungan  Analisa  Alat,  dihitung  berdasarkan koefisien alat yang digunakan untuk mendapatkan berapa biaya penggunaan alat perjamnya. Setelah Analisa  masing-masing  alat  dihitung  diteruskan dengan perhitungan analisa harga satuan perjenis pekerjaan  untuk  mengetahui  berapa  rupiah  biaya pekerjaan per satuan volumenya.

 

 

Tabel 2. Rencana Anggaran Biaya Alternatif I:

 

 

 

No

Jenis Pekerjaan

Volume

Satuan Harga

Satuan (Rp) Jumlah Harga

(Rp)

I

1

2 PEKERJAAN PONDASI

Lapisan Pondasi Atas  (Agregat A)

Lapisan Pondasi Bawah  (Agregat B)

 

5,760.00

6,048.00

 

m3

m3

 

533.251,48

504.599,12

 

3.071.528.546,78

3.051.815.477,76

Sub Jumlah 6.123.344.002,56

 

II

1

2

PEKERJAAN PENGASPALAN

Lapisan Resap Pengikat

Lapisan Aspal Beton  (LASTON)

 

28,800.00

28.800,00

 

Liter

m2

 

93.244,90

194.519,46

 

2.685.453.120,00

5.602.160.448,00

Sub Jumlah 8.287.613.568,00

 

 

Tabel 3. Rekapitulasi Biaya Alternatif I:

 

 

No

I

II JENIS PEKERJAAN JUMLAH HARGA (Rp)

PEKERJAAN PONDASI

PEKERJAAN PENGASPALAN 6.123.344.002,56

8.287.613.568,00

 

A

B

C

D

JUMLAH HARGA

PPn 10 % x A

JUMLAH KESELURUHAN (A+B)

DIBULATKAN

14.410.957.570,56

1.441095757,06

15.852.053.327,62

15.852.053.000,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MEDIA PERSPEKTIFl  VOL. 10 Nomor 1, JUNI   2010 : 1 - 59 RISET & TEKNOLOGI / 41

 

 

 

Tabel 4. Rencana Anggaran Biaya Alternatif II:

 

 

 

No

Jenis Pekerjaan

Volume

Satuan Harga

Satuan (Rp) Jumlah Harga

(Rp)

 

I

1

2

PEKERJAAN PONDASI

Lapisan Pondasi Atas  (Agregat A)

Lapisan Pondasi Bawah  (Sirtu)

 

5,760.00

6,624.00

 

m3

m3

 

533.251,48

422.964.,34

 

3.071.528.546,78

2.558.088.328,32

Sub Jumlah 5.629.616.875,10

 

II

1

2

PEKERJAAN PENGASPALAN

Lapisan Resap Pengikat

Lapisan Aspal Beton  (LASTON)

 

28,800.00

28.800,00

 

Liter

m2

 

93.244,90

194.519,46

 

2.685.453.120,00

5.602.160.448,00

Sub Jumlah

8.287.613.568,00

 

 

Tabel 5. RekapitulasiBiaya Alternatif II:

 

 

No

I

II JENIS PEKERJAAN JUMLAH HARGA (Rp)

PEKERJAAN PONDASI

PEKERJAAN PENGASPALAN 5.629.616.875,10

8.287.613.568,00

A

B

C

D JUMLAH HARGA

PPn 10 % x A

JUMLAH KESELURUHAN (A+B)

DIBULATKAN 13.917.230.433,10

1.391.723.044,31

15.308.953.487,41

15.308.953.000,00

 

 

KESIMPULAN

 

Setelah  diadakan  perhitungan,  dan  analisa maka  seluruh  isi dari  penelitian  ini  dapat   diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.Tebal  lapisan  hasil  perhitungan  untuk  bahan perkerasan alternative I, adalah sebagai berikut :

- Lapis permukaan (Laston)  7,5 cm

- Lapis pondasi atas (Agregat A)  20 cm

- Lapis pondasi bawah (Agregat B) 21 cm

Tebal  lapisan  hasil  perhitungan  untuk  bahan perkerasan alternative II, adalah sebagai

berikut :

- Lapis permukaan (Laston) 7,5 cm

- Lapis pondasi atas (Agregat A) 20 cm

- Lapis pondasi bawah (Sirtu) 23 cm

2.  Hasil  perhitungan  Rencana  Anggaran  Biaya

p e la k s a n a a n  la p i s  p e r k e r a s a n  a lt e r n a t if  I

m e m e r lu k a n   b ia ya   R p   1 5 . 8 5 2 . 0 5 3 . 0 0 0 , -

sedangkan alterative  II memerlukan  biaya Rp

15.308.953.000,-

3. Lapisan Pondasi Bawah yang terbuat dari bahan

Agregat  B  bila  diganti  dengan  Sirtu  akan  bisa menghemat biaya sebesar Rp 543.100.000,- atau

3.55 %.

4.  Biaya  Pekerjaan  Perkerasan  alternatif  I  per

k ilom eter nya  s ebesar  Rp.  2 .201. 674.02 8,- sedangkan alternatif II sebesar Rp. 2.126.243.472,-

j a d i  s e lis ih  p e r k ilo m e t e r n ya  s e b e s a r  R p .

75.430.555,-

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Pekerjaan Umum  RI, 1987, Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya  Dengan  Metode  Analisa  Komponen, SKBI.2.3.26.1987, UDC : 625.73 (02), Penerbit PU, Jakarta

Ditjen Binamarga Departemen Pekerjan Umum,1995, Panduan Analiisa Harga Satuan, Penerbit PU, Jakarta

Hendars in  Shirley  L,  1987,  Penu ntun  Pra ktis Perencanaan Teknik Jalan Raya,   Politeknik Negeri Bandung - Jurusan Teknik Sipil, Bandung

Pemerintah  Republik  Indonesia,  2004,  Undang- Undang Jalan ( UU RI No : 38 Tahun 2004 ), Sinar Grafika, Jakarta

Rochmanhadi Ir, 1990, Pemindahan Tanah Mekanik, Badan Penerbit Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta

Sa s t r a a t m a d j a . S ,   1 9 9 4 ,   An g g a r a n Bi a y a

Pelaksanaan, Nova, Bandung

Sukirman Silvia, 1994, Perkerasan Lentur Jalan Raya,

Nova, Bandung

| + - | RTL - LTR
KARYA ILMIAH administered by : SISTEM INFORMASI POLNES.